Wednesday, February 17, 2010

Nyanyian Hati

Aku sebenernya membenci masa-masa seperti ini, tak begitu menyukainya karena selalu saja membuatku rapuh nantinya. Tapi gimanapun juga ini proses kehidupan yang musti dilewati, tanpa ada penawaran entah itu aku mau apa tidak karena ini, PASTI. Aku pernah mengatakan pada hatiku untuk tidak akan membuatnya sakit lagi, kujaga sedemikian rupa hingga aku terkadang lupa bahwa aku masih mempunyai hati. Terkadang aku tergoda untuk mengkhianatinya saja tapi ternyata aku tak bisa, aku lebih mencintai hati ini ketimbang lainnya. Maka ia pun aman, hati ini masih tetap terjaga. Aku begitu setia padanya.

Seringkali aku berdebat dengannya, berkomunikasi agar hati ini kembali terbuka tapi hati selalu menang. Ia tetap ingin seperti ini, tak mau sakit lagi karena baginya sakit adalah kehancuran angannya. Aku menurut saja, mungkin memang aku juga tidak begitu bersemangat makanya hati juga tak terlalu memaksa. Ada hati lain yang datang menggodanya tapi ia tetep kekeuh dengan pendiriannya, hingga hati itu pergi dan hati ini tetap tawar.

Hingga semuanya berubah drastis sejak dia muncul dalam kehidupanku. Aku seperti tak mengenal hati lagi, aku sampai dibuat heran sama hati. Ada apa dengannya? Tak biasanya ia seperti ini, mulai gila menurutku, sebentar-sebentar hepi tanpa aku tau kenapa. Kucoba tanya kenapa eh ia hanya menjawab ‘Karena dia’. Hah?!?!?! Karena dia??? Yang bener aja???

Kukatakan pada hati ‘Kau sudah kujaga hingga detik ini, tapi sepertinya kau telah memilih semuanya untuk dirimu sendiri. Jangan salahkan aku bila kau nanti sakit kembali’ dan aku begitu kaget saat kau menjawab ‘Terimakasih kau telah menjagaku, aku akan berusaha menjaganya sendiri dan aku yakin aku bisa berhenti di sini’. Aku mendesah, kubiarkan kau kini merasakan apa yang ingin kau rasakan. Nikmati apa yang ingin kau nikmati. Terus terang aku ikut bahagia kala kau bahagia, tapi tolong jangan sakit lagi karena aku bisa rapuh karenamu. Kini aku sering mendengar nyanyianmu –hati- nyanyian akan dia. Nyanyikan terus hingga kau menjadi terbiasa dan bahagia. Aku akan tetap bersamamu –hati-.

Friday, November 20, 2009

d_whei's handmade

Ulah iseng buang suntuk dan bunuh kebosanan, ak bikin pernak pernik lucu buat pernikahan dari daun. Bisa pesan kok asal jauh-jauh hari pesennya, aseli buatan tanganku jadi rada lama prosesnya hehe....

Box mini bisa buat tempat perhiasan, ada tiga bentuk yaitu lingkaran, elips/oval dan hati/love. Harga bisa disesuaikan tergantung bungkus.













Gantungan kunci dengan tiga bentuk juga yaitu hati/love, lingkaran dan kotak. Ada dalam dua warna perak dan emas. Harga @ Rp 500.











CP:
Dewi 024 - 70037049
imel: d_whei@yahoo.com

Thursday, November 05, 2009

Yang Tak Kasat Mata

Sepertinya mendung…


“Ehm…mendung katamu?”


Aku tersentak kaget, darimana dia bisa tau aku baru saja menggumamnya? Aku kan tidak mengeluarkan suara sekali pun? Kupandangi dengan heran, tapi dia tak bereaksi. Ah mungkin perasaanku aja. segera kualihkan pandangan darinya, aku salah dengar aja kali.


“Salah dengar apanya?”


Kembali aku menoleh ke arahnya dengan raut penuh keheranan level lima. Aku yakin sekali aku tak mengucapkannya melalui mulutku. Tapi bagaimana dia bisa tau apa yang aku katakan tanpa terucap? Apa mungkin aku mulai gila? Tidak…tidak mungkin, meski saat ini kehidupanku sedang tidak menyenangkan bukan berarti aku gila kan? Setelah ditinggalin pacar, gaji dipotong gara-gara nggak masuk, belum bayar kos juga! Ah sudahlah…masih banyak yang lebih mengenaskan dari aku. Susah sedikit aja aku udah ngeluh, harusnya aku malu. Ya…malu sama diriku sendiri.


“Ya…kamu seharusnya malu”


Astaga…dia benar-benar bisa mendengarku! Punya ilmu apa dia ini? Apa dia juga melakukan ritual puasa mutih tujuh hari tujuh malam atau tidak tidur selama beberapa hari demi mendapatkan kesaktian? Wah jangan-jangan ni orang juga kebal akan bacokan, atau mungkin dia bisa berjalan di atas beling? Hah…sampai sekarang aku masih tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa seperti itu ya, padahal kan mereka juga bertulang dan berkulit yang sama. Tapi kenapa mereka bisa hidup nganeh-nganehi gitu hehe. Malah ada yang membuatku geli, ada yang sengaja berguru untuk mendapatkan kesaktian biar ditakuti dan disegani banyak orang. Berjalan dengan penuh percaya diri karena merasa “lebih” dari orang lain. Yang lebih konyol lagi, mereka kadang dengan sengaja berkoar-koar dan minta perhatian serta pengakuan bahwa “Nih lo aku, si pemberani. Sang jagoan!”. Oalah…lucu bener orang seperti ini. Yang jelas aku bukan bagian dari mereka yang sok kuat, ingin terlihat sakti dan berkuasa atas orang lain. Ngurusi hidup sendiri aja bikin mumet lha kok malah buat sok-sokan.


“Ya…urus saja dirimu sendiri”


Ya! Dia benar-benar bisa mendengarku! Dia bisa! Sepertinya aku tak salah lagi, dia pasti orang sakti yang kebetulan ada bersamaku. Dia mampu mendengar apa yang tak terucap melalui mulutku serta apa yang telah kulakukan. Kekagetanku berubah menjadi kagum. Pandanganku pun berubah. Jarang-jarang ada yang seperti dia, bahkan mungkin hanya dia yang bisa seperti itu. Kekagumanku beralih pada yang kuasa, Allah memang maha besar. Mampu berbuat apapun dan menciptakan apa yang dimaui. Dengan kekuatan kun fayakun-nya, Allah sangat-sangat kuasa. Dia sungguh maha besar


Aku memang maha besar!

Monday, October 05, 2009

Ku Khianatai Kau di Ranu Kumbolo

Nuansa lebaran masih terasa, yah maklum wong baru H+3. Kamis dini hari kita berangkat menuju terminal Bungurasih, sekitar jam setengah 2 kita keluar dari rumah. Perjalanan lancar hingga sampai di Ranu Pani meski trek Tumpang – Ranu Pani begitu mengerikan. Udah jalan sempit, lerengnya jurang, jalannya sebagian masih berupa tanah berdebu lagi. Serem kalo papasan sama mobil lain, duh sport jantung pokoknya.

Kurang lebih 6 jam kita ngetrek dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo. Mata nggak henti-hentinya menjelajah setiap sudut tebing maupun hutan yang dilewati sampai-sampai aku menangkap onggokan mini candi manusia (huweekkkssss….) yang udah dikerubuti lalat ijo. Wadow…ranjau pendaki!

Sekitar jam 5 sore, kita putuskan ngecamp nggak jauh dari turunan menuju lokasi danau. Aklimatisasi di tempat yang salah hehe soalnya banyak yang bilang kalo lokasi tempat camp kita tuh tempat muternya angin jadi nggak salah kalo dinginnya luar binasa di situ. Angin yang datang dari arah bukit cinta berkumpul di area camp kita, ketambahan angin dari bukit, area Ayak-ayak. Pantesan dingin banget!
Jumat siang kita putusin buat jalan-jalan, penasaran juga sama trek yang lain menuju puncak Mahameru.

Tiba di tanjakan cinta dengan mitos asmaranya. Dalam hati setengah geli dengan mitosnya tapi semua tergantung kepercayaannya masing-masing kan? Hampir ujung tanjakan cinta aku memutuskan untuk berhenti dan menoleh ke belakang, bukannya aku meremehkan mitosnya tapi aku tak percaya dengan hal tersebut. “Tanjakan cinta! Hei apa kabar cinta!!!” teriakku dari atas. Yang di bawah ngakak melihatku. Akhirnya aku berhenti untuk foto-foto di situ.

Melewati Oro-oro Ombo yang merupakan tempat favoritku karena mata dimanjakan oleh sabana, sayang rumputnya kering, coba pas hijau-hijaunya! Masuk ke Cemoro Kandang yang bikin miris karena bekas terbakar hingga ke Jambangan tapi tidak sepenuhnya karena waktu dan perbekalan udah nggak memungkinkan. Jumat malam yang tak kan terlupakan, saat aku berkeliling mendekati area Ayak-ayak tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesosok makhluk item besar jongkok gak jauh dariku. Rasa manusiaku yang penakut keluar sampai sendalku semburat ke mana-mana.

Mulai dari Pulau Sempu hingga di Ranu Kumbolo sendal Eiger itu menemani aku ke mana-mana tapi sayang jodohnya terputus di malam itu. Hiks..hiks…hampir 4 tahun bersama akhirnya raib juga. Untung ada yang berbaik hati memberiku sendal meski sebenernya nggak sesuai ukurannya, hampir kayak kapal saking kegedeannya. Makasih banyak ya Rob, sendalmu bermanfaat buat aku hehe.

Malam itu penuh kejutan, cuaca sangat-sangat dingin sampe kuketahui pagi hari kalo air di luar telah menjadi es dan tenda maupun perlengkapan yang berada di luar kayak pisau, gunting, sendok serta sendal telah tertutup bunga es. Ya Allah…indah banget! Nggak heran kalo aku merasa beku malam itu –maaf ya sleeping bagnya jadi bau minyak kayu putih hehe- saking dinginnya.

Sabtu, 26 September 2009 sekitar pukul 9 pagi kita berkemas dan kembali ke peradaban dan bersiap menjelang rutinitas yang menyisakan penat di kemudian hari. Tiga hari di alam membuatku berpikir banyak hal akan menghargai kehidupan. Huwaaahhh….aku selalu rindu saat-saat seperti itu.

Kapan aku bisa lagi?