Aku sebenernya membenci masa-masa seperti ini, tak begitu menyukainya karena selalu saja membuatku rapuh nantinya. Tapi gimanapun juga ini proses kehidupan yang musti dilewati, tanpa ada penawaran entah itu aku mau apa tidak karena ini, PASTI. Aku pernah mengatakan pada hatiku untuk tidak akan membuatnya sakit lagi, kujaga sedemikian rupa hingga aku terkadang lupa bahwa aku masih mempunyai hati. Terkadang aku tergoda untuk mengkhianatinya saja tapi ternyata aku tak bisa, aku lebih mencintai hati ini ketimbang lainnya. Maka ia pun aman, hati ini masih tetap terjaga. Aku begitu setia padanya. Seringkali aku berdebat dengannya, berkomunikasi agar hati ini kembali terbuka tapi hati selalu menang. Ia tetap ingin seperti ini, tak mau sakit lagi karena baginya sakit adalah kehancuran angannya. Aku menurut saja, mungkin memang aku juga tidak begitu bersemangat makanya hati juga tak terlalu memaksa. Ada hati lain yang datang menggodanya tapi ia tetep kekeuh dengan pendiriannya, hingga hati itu pergi dan hati ini tetap tawar.
Hingga semuanya berubah drastis sejak dia muncul dalam kehidupanku. Aku seperti tak mengenal hati lagi, aku sampai dibuat heran sama hati.
Kukatakan pada hati ‘Kau sudah kujaga hingga detik ini, tapi sepertinya kau telah memilih semuanya untuk dirimu sendiri. Jangan salahkan aku bila kau nanti sakit kembali’ dan aku begitu kaget saat kau menjawab ‘Terimakasih kau telah menjagaku, aku akan berusaha menjaganya sendiri dan aku yakin aku bisa berhenti di sini’. Aku mendesah, kubiarkan kau kini merasakan apa yang ingin kau rasakan. Nikmati apa yang ingin kau nikmati. Terus terang aku ikut bahagia kala kau bahagia, tapi tolong jangan sakit lagi karena aku bisa rapuh karenamu. Kini aku sering mendengar nyanyianmu –hati- nyanyian akan dia. Nyanyikan terus hingga kau menjadi terbiasa dan bahagia. Aku akan tetap bersamamu –hati-.



